Home » JIN » Apakah Jin Kepanasan Jika Mendengar Al Qur’an ? » Apakah Jin Kepanasan Jika Mendengar Al Qur’an ?

Apakah Jin Kepanasan Jika Mendengar Al Qur’an ?

Categories

Pertanyaan:
1.Apa yakin jin akan kepanasan jika mendengar Al Quran?
2.Kenapa orang kafir tdk kepanasan?
3.Tdk ada jin yg mau masuk Islam dong karna baru dngar dikit z sudah lari takut kpanasan?
4.Jin atau orang yg dpat hidayah masuk islam kn caranya bnyak minimal dngar dulu ayat2 alquran, bru z dngar sudah kepanasan, aneh gk?
kang anton (d.sulaxxxxxx@yahoo.com)

Jawaban :

Bismillahirrahmanirrahim. Pertama, perlu kita ingat bahwa seorang muslim harus beriman kepada perkara yang ghaib, yang tidak dapat dirasakan oleh panca indera tetapi sudah dinyatakan keberadaannya oleh dalil. Alloh ta’ala mengingatkan ;

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al Baqarah : 2-3).

Seorang muslim juga harus percaya bahwa salah satu sifat Al Qur’an adalah penawar penyakit. Alloh ta’ala berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al Isra’ : 82).

Seorang muslim juga harus percaya bahwa Al Qur’an –dengan izin Alloh-memiliki kekuatan yang luar biasa. Alloh ta’ala menegaskan :

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al Hasyr : 21).

Adapun jawaban dari pertanyaan anda :

Ya, dan ini sudah terbukti bagi yang pernah meruqyah atau menyaksikan proses ruqyah. Ada beberapa hadits yang mengisyaratkan tentang hal ini :

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780)

Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- juga bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila azan dikumandangkan maka setan akan lari sambil kentut hingga dia tidak mendengarkan azan lagi. (HR. Al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-).

Dan setan termasuk bangsa jin. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu dia mendurhakai perintah Tuhannya.” (Al Kahfi : 50).

Jika yang dimaksud dengan kepanasan adalah seperti kepanasannya jin yang diruqyah, maka itu tidak terjadi. Sebab, asal penciptaan mereka berbeda. Jin diciptakan dari api, sedangkan manusia yang kafir itu diciptakan dari tanah. Allah ta’ala yang telah menetapkan seperti itu agar ada orang kafir yang mendapat hidayah setelah mendengarkan bacaan Al Qur’an.

Adapun bila yang dimaksud dengan kepanasan adalah kegelisahan hati mereka dan kebencian mereka terhadap bacaan Al Qur’an itu, maka itu terjadi pada sebagian mereka. Alloh ta’ala berfirman :

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”. (Al Ahqaf : 7).

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: “Datangkanlah nenek moyang kami jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (Al Jatsiyah : 25).

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنكَرَ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا

“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka.” (Al Hajj : 72).

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَن يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُّفْتَرًى وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: “Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kalian dari apa yang disembah oleh nenek moyang kalian”, dan mereka berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja”. Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (Saba’ : 43).

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِن تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya sesuai kemauan diriku. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (Yunus : 15).

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah belum mendengarnya. Seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya. Maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih. (Luqman : 7).

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini, dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushshilat : 26).

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَٰذَا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau Kami menghendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang terdahulu”. (Al Anfal : 31).

Jin yang kepanasan ketika diruqyah dengan Al Qur’an tidaklah langsung lari. Biasanya mereka akan berteriak dan meminta kepada orang yang meruqyah untuk menghentikan bacaan. Nah, saat itulah kesempatan untuk mengajaknya masuk Islam.

Tetapi para ulama mengatakan hendaknya orang yang meruqyah sebisa mungkin tidak berbicara kepada jin yang ada pada tubuh orang yang diruqyah, karena hal itu lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya. Bangsa jin terkenal sebagai bangsa yang banyak berdusta, sehingga walaupun jin itu sudah bicara tentang banyak hal yang menghabiskan waktu, perkataannya tidaklah bisa dipegang. Kemudian percakapan antara peruqyah dengan jin itu dijadikan sebagai waktu untuk istirahat dan memulihkan kekuatan oleh jin itu karena si peruqyah tidak lagi membacakan Al Qur’an. Percakapan tersebut juga menjadikan si sakit lebih menderita karena tubuhnya menjadi lebih lama dikendalikan oleh jin itu.

Jin yang diruqyah dengan Al Qur’an tidaklah langsung kepanasan. Hal ini tergantung dengan kadar keikhlasan dan kekuatan iman si peruqyah, konsentrasi si penderita dalam mendengarkan ayat-ayat tersebut, serta sejauh mana dia menghadap kepada Alloh ta’ala.

Si peruqyah hendaknya tidak terlalu bersemangat menjadikan jin tersebut masuk Islam. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan bahwa bangsa jin terkenal sebagai bangsa yang banyak berdusta. Sehingga walaupun secara dhahir jin itu sudah membaca syahadat dan berjanji untuk melaksanakan ajaran Islam, tetapi merupakan perkara yang mudah jika setelah jin itu keluar dari tubuh si sakit, dia akan kembali kafir. Lagipula, tujuan utama dari ruqyah itu adalah mengusir jin tersebut dari tubuh si sakit. Wabillahit taufiq.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: