Home » NIKAH & PASUTRI

Category Archives: NIKAH & PASUTRI

Hukum Istri Mengenakan Sandal Suaminya dan Sebaliknya

Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud no. 4099:

عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: قِيلَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : إِنَّ امْرَأَةً تَلْبَسُ النَّعْلَ، فَقَالَتْ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَةَ مِنَ النِّسَاءِ»

dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: dikatakan kepada Aisyah rodhiyallohu anha: sesungguhnya ada kaum wanita yang memakai sandal kaum lelaki. Maka Aisyah berkata: “Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.”

Bagaimanakah perincian tentang larangan ini? simak penjelasan syaikh Zaid bin Hadi al-Madkholi hafidzohulloh berikut ini…

Oleh: Syaikh Zaid bin hadi al-Madkholi hafidzohulloh

Pertanyaan:

Ahsanallohu ilaikum, seorang penanya bertanya: apakah jika seorang laki-laki mengenakan sandal istrinya di dalam rumah termasuk tasyabbuh (menyerupai) dengan wanita? Apakah ini berlaku pada semua jenis pakaian?

Jawaban:

Jenis pakaian itu ada yang khusus bagi laki-laki yang jika dikenakan oleh wanita maka ia telah melakukan perbuatan tasyabbuh, kecuali jika benar-benar darurat.

Dan jenis pakaian juga ada yang khusus bagi wanita yang bukan kekhususan laki-laki, maka tidak boleh bagi laki-laki mengenakan dan memanfaatkanya.

Dan ada juga jenis pakaian yang musytarok (berserikat) antara laki-laki dan wanita yang boleh dikenakan laki-laki dan wanita, seperti sandal yang biasanya ada di depan kamar mandi (seperti sandal jepit, pent) di dalam rumah dan yang sejenis itu. Demikian perincian dalam masalah ini.

***

Diterjemahkan dari: http://www.njza.net/Default_ar.aspx?Page_ID=58

***
السؤال : أحسن الله إليكم يقول السائل هل إذا لبس الرجل نعل زوجته داخل البيت يعتبر تشبها -أي تشبه الرجل بالمرأة- وهل هذا بالنسبة لجميع الملابس؟
الجواب: الألبسة قسم منها خاص بالرجال فإذا لبسته المرأة تشبهت اللهم إلا عند الضرورة القصوى، وقسم خاص بالنساء ليس من خصائص الرجال لا يجوز للرجال أن يلبسوه وينتفعوا به، وقسم مشترك بين الرجال والنساء يمكن أن يلبسه الرجل ويمكن أن تلبسه المرأة، ومنها النعال التي تكون في أبواب الحمامات في البيوت وما شاكل؛ ذلك هذا التفصيل في القضية.

Sumber: http://ummushofi.wordpress.com/2011/07/04/hukum-istri-mengenakan-sandal-suaminya-dan-sebaliknya/

Ingin Berpisah dengan Suami

Tanya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sudah menikah selama 7 tahun dan dikarunia dua orang putra. Namun dulu kami menikah karena ‘kecelakaan’. Saya menentang ibu saya yang tidak setuju dan sekarang ketidaksetujuannya terjawab.
Rumah tangga saya tidak pernah rukun. Kami sama-sama egois. Selalu saja ada pertengkaran antara kami. Kami sudah pernah dua kali berpisah namun rujuk lagi karena banyak janji dia yang saya pegang, tapi tak satu pun yang ditepati. Malah perubahan dia hanya bertahan sebentar.
Sekarang, kami sudah berpisah selama 1 tahun. Pisah rumah namun dia suka datang sebentar untuk melihat anak-anak.
Saya bersikukuh minta cerai tapi dia tetap menolak. Belum lagi ibu saya sangat tidak suka dengan sikap-sikap dia karena dia pun kurang respek & menghormati ibu saya.
Saya anak satu-satunya dan kedua orang tua saya pun telah lama berpisah. Saya merasa punya tanggung jawab yang besar kepada ibu saya. Apalagi mengingat saya dulu telah durhaka dengan menikahi dia dalam keadaan hamil dan lari dari rumah.
Saya merasa sangat berdosa dan dihantui perasaan bahwa yang saya alami saat ini adalah karma. Saya benar-benar bingung. Dia tetap tidak mau cerai padahal sudah saya kemukakan semua.
Mohon pak ustadz membantu saya memberikan masukan sebagai pencerahan karena saya tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Mohon dikirim balasan ke alamat email saya.
Wasalam.

Dijawab oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc

Bismillahirrohmanirrohim,
alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rasulillah wa ba’du,

Bila seorang suami tidak melakukan kewajibannya, atau istri sangat benci terhadap suami sehingga tidak mungkin lagi membangun rumah tangga bersamanya maka saat itu diperbolehkan untuk melakukan khulu’, yaitu membatalkan pernikahan, caranya, istri meminta kepada suami untuk membatalkan pernikahan mereka, dan istri mengembalikan maharnya kepada suami. Tentunya proses ini lebih baik ditempuh secara resmi, misalnya di KUA. Pernah terjadi di zaman Nabi hal yang semacam ini, sebagaimana dalam hadits berikut ini.

Dari Ibnu Abbas bahwa istri Tsabit bin Qois datang kepada Nabi shallahu ‘alai wa sallam maka dia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah Tsabit bin Qois, saya tidak mencelanya dalam hal akhlak dan agama akan tetapi saya tidak suka kekafiran setelah keislaman’. Maka Rasulullah shallahu ‘alai wa sallam mengatakan; ‘Apakah kamu mau mengembalikan ladangnya (yaitu maharnya)’. Maka ia menjawab: ‘Iya’. Maka Nabi shallahu ‘alai wa sallam katakan (kepada Tsabit) ‘Terimalah ladang itu dan ceraikanlah’. [Shahih. HR. Al Bukhori: 5273]

Kekafiran yang di maksud adalah akhlak kekafiran setelah masuk Islam. Dikarenakan ia sangat benci terhadap Tsabit dan khawatir berat akan melanggar aturan agama dalam hidup berumah tangga dengannya.

Akan tetapi bila tidak ada alasan yang dibenarkan oleh syariat, lalu seorang istri minta diceraikan maka tidak boleh bahkan haram, seperti misalnya masalah-masalah yang insya allah dapat diselesaikan. Dalam hadits,

Dari Tsauban ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alai wa sallam bersabda: Wanita, siapapun dia, yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang berat maka haram baginya mencium bau surga. [Shahih. HR. Abu Dawud: 2228 dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh asy Syaikh al Albani]

Selanjutnya, perlu kami ingatkan bahwa apa yang lalu dari berbagai problematika adalah buah dari kemaksiatan tersebut –wallahu a’lam-, durhaka kepada orang tua adalah dosa yang sangat besar, zina juga dosa yang sangat besar. Allah tidak mengharamkan keduanya kecuali karena keduanya akan membawa kepada kecelakaan dunia dan akhirat, percayalah dengan hukum Allah, dan tunduklah kepadanya, Allah sangat belas kasih kepada kita, karena itu, kita dilarang dari semua itu.

Maka ambillah pelajaran, jangan sampai itu terjadi pada diri kita dan anak turun kita, jagalah diri kita dan anak turun kita dengan ekstra perhatian dan penjagaan.

Semoga Allah melindungi kita semua amin.

Sumber: http://tashfiyah.net/2010/12/ingin-berpisah-dengan-suami/

Menikah dengan Memalsukan Data

Tanya:

Bismillah.

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kakak saya perempuan menikah dengan seseorang laki-laki yang sudah beristri. Karena pernikahannya secara sembunyi-sembunyi takut ketahuan istrinya, maka kakak ipar saya (sekarang menjadi kakak ipar) memalsukan semua datanya.. dari statusnya; menjadi perjaka dan alamat rumah serta membawa saksi-saksi yang palsu juga.. Sedangkan keluarga kami (Ibu dan kakak-kakak saya yang lain tidak menyetujui hubungan kakak saya ini).
Perkawinan mereka sudah berjalan 10 tahun dan selama itu selalu timbul masalah dengan rumah tangga mereka, dari masalah keuangan sampai anak dari pihak kakak ipar saya (kebetulan dari perkawinan yang ini mereka tidak mempunyai anak).
Beberapa bulan yang lalu kakak ipar saya berniat menceraikan istri pertamanya tapi ternyata pihak istri pertama tidak mau sehingga banding sampai ke kasasi…
Yang menjadi pertanyaan saya… sahkah menurut hukum Islam dan negara pernikahan yang dilakukan oleh kakak perempuan saya ini.. karena lama-lama kakak perempuan saya menjadi gamang dan ragu-ragu tentang keabsahan pernikahannya…
Dan jalan apa yang harus mereka tempuh untuk meluruskan semua ini… apakah kakak perempuan saya harus bercerai dulu, kemudian kalau urusan perceraian suaminya dengan istri pertamanya selesai dia bisa menikah lagi atau bagaimana…?
Terus terang perkawinan kakak perempuan saya selama ini penuh dengan kendala dan tidak berkah… apakah ini dikarenakan cara menikah yang salah juga…?
Mohon jawabannya… terima kasih..
Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Jawab:

Dijawab oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.

Waalaikumussalam warohmatullah wabarokatuh

Jawaban atas pertanyaan saudari Tiara. Mengenai perkawinan kakak perempuan saudari dengan laki-laki tersebut, sudahkah telah terpenuhi syarat-syarat pernikahan tersebut secara agama atau belum, yaitu persyaratan adanya wali yang menikahkan, saksi dan maharnya. Wali yang dimaksud adalah ayah perempuan tersebut, bila telah meninggal maka kakeknya atau saudara laki-laki perempuan tersebut misalnya. Dan saksi yang dimaksud adalah minimalnya 2 laki-laki, yang baik dan jujur, bisa dipertanggung jawabkan persaksiannya.

Bila ini terpenuhi dengan ijab dan qobulnya maka sah. Tidak dipersyaratkan harus cerai dulu dengan istri pertamanya. Tetapi kalau syarat-syarat di atas tidak terpenuhi maka tidak sah. Akan tetapi suami tersebut tetap berdosa dalam hal pemalsuan data-datanya.

Adapun kalau dari sisi pandang hukum negara saya kurang tahu.

Adapun kemelut dalam keluarga, bila mana perkawinannya sah, maka penyebabnya bukan dari sebab perkawinan itu, tapi mungkin saja dari sisi-sisi lain, mungkin ketidak jujurannya, dan pemalsuan datanya, kurangnya tanggung jawab, kurang bisa mengatur keluarga, dan kurang menyayangi mereka, atau mungkin dari pihak istri yang kurang sabar, tidak mau terima dan tidak mau tahu, atau yang lain.

Yang jelas kalau mau memperbaiki keluarga tentunya harus ada perbaikan secara menyeluruh, dan masing masing punya niatan yang baik, dan senantiasa bertaubat kepada Allah serta memohon pertolonganNya.

Sumber: http://tashfiyah.net/2010/12/menikah-dengan-memalsukan-data/